0
Dikirim pada 27 April 2018 di Berita

Penyalahgunaan data pemakai Facebook nyatanya lebih jelek dari sangkaan awal mulanya. Apabila terlebih dulu ditaksir 50 juta, rupanya menjangkau 87 juta serta pemakai Indonesia masuk di dalamnya. 


 


Lewat situs (blog) perusahaan, Chief Technology Office Facebook Mike Schroepfer membuka perusahaannya sudah sharing data sampai 87 juta dengan perusahaan konsultan politik Cambridge Analytica. Dari jumlah itu, beberapa besar pemakai yang terserang efek ada di Amerika Serikat. 


 


Tapi paling mengagetkan, dari data yang dihidangkan Chroepfer, ada nama Indonesia di daftar negara yang data pemakainya dibagi ke Cambridge Analytica. Jumlahnya cukup banyak, yaitu 1. 096. 666 atau sekitaran 1, 3% dari keseluruhan. Angka itu buat Indonesia ada di posisi ke-3 sesudah Amerika Serikat serta Filipina. 


 


Sayangnya tidak di ketahui data dari Indonesia dipakai untuk apa oleh Cambridge Analytica. Pasalnya data pemakai Amerika Serikat digunakan untuk kampanye Donald Trump pada Pilpres AS 2016. 


 


Masalah itu lalu beresiko pada kuatirnya beberapa tokoh tehnologi hingga tindakan penghilangan account Facebook. Umpamanya, CEO Apple Tim Cook yang mengungkap momen ini butuh jadi pelecut untuk menggaungkan perlunya regulasi data pribadi pemakai basis on-line. 


 


Lewat situs (blog) perusahaan, Chief Technology Officer (CTO) Facebook Mark Schoepfer melaunching daftar facebook pemakai berdasar pada negara yang paling terdampak dari kebocoran data ini. Sebagian besar datang dari Amerika Serikat sejumlah 70, 6 juta account atau 81, 6 %. 


 


Indonesia ada di posisi ke-3 dalam daftar itu dengan 1 juta lebih account, satu nomor dibawah Filipina dengan 1, 1 juta lebih account. 


 


 


Jadi tanggung jawab mereka, Facebook merubah beberapa kebijakan disana-sini dari mulai pemakaian application program interface (API), kolom pencarian, sampai halaman login. 


 


" Keseluruhannya kami yakin perubahan ini juga akan membuat perlindungan info seorang tambah baik sambil menolong beberapa pengembang membuat pengalaman yang bermanfaat, " catat Schoepfer, Rabu (4/4). 


 


Ini pertama kalinya Facebook mengonfirmasi dengan resmi kalau ada kebocoran data yang tejadi. 


 


Tetapi laporan Bloomberg menyebutkan dua miliar pemakai Facebook ada dalam tempat rawan dibuka sembarang orang. Contoh kerentanan itu berlangsung pada kotak pencarian yang dapat digunakan untuk mencari satu account lewat nomor telepon atau alamat surel. 


 


" Lihat taraf serta canggihnya kesibukan yang tampak, kami percaya profil umum beberapa orang di Facebook di ambil lewat cara itu. Hingga saat ini kami menonaktifkan feature itu, " catat Facebook. 


 


Mark Zuckerberg sendiri mengaku pihaknya bersalah dalam masalah ini serta ia terima kemarahan beberapa pemakai, pengiklan, serta parlemen di beberapa negara. 


 


" Saat kau membuat suatu hal seperti Facebook yang belum juga sempat ada terlebih dulu didunia, juga akan ada suatu hal berantakan, " tutur Zuckerberg diambil dari Reuters. 


 


" Ini salah saya. " 


 


Saat Facebook telah mengaku ada kebocoran data dengan jumlah pemakai yang semakin banyak dari diprediksikan terlebih dulu, Cambridge Analytica malah berkata demikian sebaliknya. 


 


Merilis dari laporan TechCrunch, Cambridge Analytica mengklaim cuma menggunakan data dari 30 juta pemakai yang didapat dari Global Science Research, perusahaan yang memperoleh izin resmi dari Facebook. Mereka juga berdalih data itu tidak mereka gunakan untuk menolong Donald Trump menang di pemilu presiden AS pada 2016 kemarin. 


 


Pendiri WhatsApp Brian Action juga mengkampanyekan supaya menghapus account Facebook. Tindakan itu dibarengi oleh CEO SpaceX serta Tesla Elon Musk yang men-delete account resmi ke-2 perusahannya itu di sosial media terpopuler sejagat ini.


 


Sumber: Membuat facebook.



Dikirim pada 27 April 2018 di Berita
comments powered by Disqus
Profile

Mahasiswa yang doyan baca tulis More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.735 kali


connect with ABATASA